4 Desa Di Indonesia Yang Warganya Jadi Miliarder

4 Desa Di Indonesia Yang Warganya Jadi Miliarder

Penguasaan tanah tidak selalu menyimpan cerita pahit. Terkadang muncul cerita menarik, seperti orang yang tiba-tiba menjadi miliarder.
Warga yang dievakuasi melalui proyek tiba-tiba menjadi kaya karena diberi ganti rugi atas kepemilikan tanah yang begitu berharga. Inilah yang terjadi di Tuban, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Warga menjadi miliarder karena mendapat kompensasi proyek kilang. Menariknya, warga ini kemudian berbondong-bondong membeli mobil baru hingga tersebar luas.

Cerita tentang orang yang tiba-tiba menjadi miliarder tidak hanya terjadi di Tuban. Berikut empat desa yang penduduknya mendadak jadi miliarder:

Penguasaan tanah tidak selalu menyimpan cerita pahit. Terkadang muncul cerita menarik, seperti orang yang tiba-tiba menjadi miliarder.
Warga yang dievakuasi melalui proyek tiba-tiba menjadi kaya karena mendapat ganti rugi atas kepemilikan tanah yang begitu berharga. Inilah yang terjadi di Tuban, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Warga menjadi miliarder karena mendapat kompensasi proyek kilang. Menariknya, warga ini kemudian berbondong-bondong membeli mobil baru hingga tersebar luas.

Cerita tentang orang yang tiba-tiba menjadi miliarder tidak hanya terjadi di Tuban. Berikut empat desa yang penduduknya mendadak jadi miliarder:

1. Yogyakarta

Padukuhan dan Desa Kalurahan Tertonadi, Kecamatan Malate, Sulaiman, baru saja diduduki. Beberapa warga tiba-tiba menjadi miliarder karena mendapat ganti rugi lahan untuk Proyek Jalan Baween Yogyakarta.

Sumianto (50) adalah warga yang berpenghasilan miliaran. Lahan seluas 500 meter itu diganti Rp 2,4 miliar. Dia menghabiskan uangnya untuk membeli tanah dan 3 mobil.

Baca Juga :   Kabar baiknya, hasil penelitian menunjukkan jamu sambiloto asli Indonesia efektif melawan Covid-19

JJB melakukan tiga kali pembayaran uang santunan kepada masyarakat di Desa Tirtoadi, Sulaiman, Yogyakarta. Pembayaran pertama dilakukan pada 30 Juni – 1 Juli 2021 untuk 38 bidang tanah dan 4 bangunan dengan total biaya Rs 63 miliar.

Gelombang kedua pada 4-5 Agustus 2021 sebanyak 96 lapangan dengan total nilai Rp 102 miliar. Selanjutnya, gelombang ketiga sebanyak 126 lapangan dikirimkan melalui mekanisme pembayaran langsung dengan total nilai Rs 164 miliar.

Sebagai gambaran, untuk menyelesaikan pembebasan lahan di Seksi 1 (Yogyakarta – Banyorigo) sepanjang 8,77 km membutuhkan jatah pembebasan lahan pada 2021 sebesar Rp 1,5 triliun. Oleh karena itu, dengan penyerapan alokasi sebesar Rp 365 triliun ini, masih dibutuhkan anggaran sekitar Rp 1,135 triliun pada tahun 2021.

2. Sulawesi Selatan

Desa yang kini menjadi kampung miliuner adalah Kale Komara, di Takalar, Sulawesi Selatan. Warga desa menerima ganti rugi atas lahan proyek bendungan.

Sebelumnya, warga pemilikan lahan Proyek Bendungan Pamukulu ini sempat diprotes karena nilainya hanya Rp. 3500 per meter. Kemudian, warga setempat rutin menggelar aksi unjuk rasa sejak awal 2019 hingga 2020 untuk memprotes nilai ganti rugi tanah tersebut.

“Sekarang ganti rugi per meternya bervariasi, ada yang Rp 20.000 per meter dan ada yang Rp 25.000,” kata warga Cali Kumara, Parwansa, kepada wartawan, Rabu (19/5/2021).

Baca Juga :   Resmi Menjadi Presiden Joe Biden dan Keluarganya Masuk Ke Gedung Putih

Dari hasil tersebut, warga mulai membeli mobil biasa untuk truk. “Puluhan orang beli mobil, ada sekitar 20 orang, tapi ada juga yang beli mobil besar, mobil tongkang,” katanya.

Selama sebulan terakhir, kata Parwansa, dia dan warga lainnya mendapat ganti rugi tanah untuk membangun Bendungan Pamukulu milik pemerintah. Barawansa telah menahan ratusan juta.

“Kalau saya baru menerima sekitar 700 juta rupiah. Tidak semua itu (tidak semua tanah dikompensasikan penuh),” kata Parawansa.

Warga lainnya, menurut Paroanca, mendapat ganti rugi yang lebih tinggi. Bahkan jumlahnya mencapai miliaran rupiah.

“Ada sebanyak Rp 4 miliar dan Rp 3 miliar dan Rp 7 miliar, banyak yang sudah disetor dan banyak yang belum dibayar,” katanya.

Tak hanya membeli mobil, warga juga banyak yang memanfaatkan uang reparasi lahannya untuk investasi.

3. Jawa Barat

Warga Desa Kawungsari, Kecamatan Cibereum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, menjadi sorotan publik. Desa itu sekarang disebut “Desa Miliarder” dan penduduknya membeli sepeda motor dan mobil. Hal ini tidak terlepas dari pembangunan Bendungan Kuningan.

Pembangunan Bendungan Kuningan memaksa 362 kepala keluarga di Desa Kaungsari menyerahkan rumah dan tanahnya untuk dibeli pemerintah guna melancarkan proyek nasional.

Kepala Desa Kawungsari Kusto mengatakan, ada 386 bidang tanah dan bangunan milik warga yang sudah dibeli pemerintah. Dari total bidang tanah, menurut Kusto, baru 279 yang mendapat ganti rugi senilai Rp 149 miliar.

Baca Juga :   Apa Saja Bahaya Pelihara Ikan Aligator, Begini Bahayanya

Menurut dia, besaran ganti rugi yang diberikan kepada warga berbeda-beda, tergantung kavling tanah dan bangunan yang dimiliki. “Yang paling kecil adalah warga yang mendapat imbalan 150 juta rupee. Yang terbesar sekitar 1,6 miliar rupee. Saya sendiri mendapat 700 juta rupee, tapi saya termasuk yang tidak mengeluarkan uang itu,” kata Kusto.

4. Jawa Timur

Warga Desa Tuban tiba-tiba menyebar luas karena membeli ratusan mobil baru. Mereka tiba-tiba menjadi miliarder setelah menerima uang kompensasi untuk pengadaan tanah untuk proyek kilang, kerjasama antara Pertamina dan Rosneft Rusia.

Peristiwa viral tersebut terjadi di Desa Sumurgeneng, Kabupaten Jenu, Tuban. Hal itu dibenarkan oleh Jihanto, Kepala Desa Sumorgening. Menurut dia, warga berbondong-bondong membeli mobil baru setelah mendapat ganti rugi pembebasan lahan untuk pembangunan kilang minyak, dari perusahaan Rusia Pertamina dan Rosneft.

Tanah warga dibayar Rp 600.000 hingga Rp 800.000 per meter. Ia menambahkan, uang yang diperoleh warga sangat besar, sehingga mereka memutuskan untuk membeli mobil yang bisa mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut dia, warga rata-rata mendapat ganti rugi atas penguasaan tanah Pertamina senilai Rp 8 miliar. Lalu ada warga yang memiliki lahan seluas 4 hektar dan mendapatkan Rp 26 miliar.

“Ada juga warga Surabaya yang memiliki tanah di sini dan mendapatkan Rp 28 miliar,” tambah Jehanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *